Posted by: adhi003 | January 30, 2008

Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit Membela Sunnah

Imam Abu Hanifah sangat konsisten terhadap sunnah dan sangat membenci segala macam kebid’ahan dalam agama sehingga beliau sangat membenci ilmu kalam dan filsafat karena ilmu tersebut menjadi sumber malapetaka dan kesesatan dalam memahami agama serta pemicu utama timbulnya kebid’ahan, maka para murid beliau telah meriwayatkan berbagai macam perkataan dan pernyataan beliau yang seluruhnya mengandung satu maksud dan tujuan, yaitu kewajiban berpegang kepada hadits Nabi, meninggalkan kebid’ahan dan larangan taklid kepada para imam bila bertentangan dengan hadits Nabi, serta membenci ilmu filsafat. Read More…

Ath Turmudzi meriwayatkan dari hadits Abdullah ibnul Walid al Washafi, dari ‘Athiyyah, dari Abu Sa’id, dia berkata : “Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam masuk ke dalam ruangan shalatnya. Beliau melihat banyak orang (di sana). Seakan-akan mereka semua tertawa lebar dan bercanda ria. Maka Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Ingatlah ! Sesungguhnya jika kalian memperbanyak ingat terhadap sesuatu yang menghancurkan kenikmatan (maut), pasti sesuatu fenomena yang ghaib yang aku saksikan akan menyibukkan kalian (untuk memperbanyak dzikir). Oleh karena itu, perbanyaklah mengingat penghancur kenikmatan (maut). Karena sesungguhnya tidak akan berlalu sutu haripun di alam kubur kecuali dia (kuburan) akan berkata :”Aku ini adalah rumah (untuk orang) yang asing. Aku ini adalah tempat tinggal untuk orang yang sendirian. Aku ini adalah rumah yang akan menjadikan penghuninya menjadi tanah dan menyebabkan mereka dimakan cacing”. Read More…

Posted by: adhi003 | January 21, 2008

apakah anda pengikut taqlid ?

mungkin sebagian besar dari kita-meskipun pernah mondok atau kuliah bertahun tahun-masih bingung apa sich sebenarnya taqlid,  apakah saya termasuk pengikut taqlit, berikut artikel singkat, semoga bermanfaat

DEFINISI TAQLID

Taqlid secara bahasa adalah meletakkan “al-qiladatun” (kalung) ke leher. Dipakai juga dalam hal menyerahkan perkara kepada seseorang seakan-. akan perkara tersebut diletakkan di lehernya seperti kalung. [Lisanul Arab 3/367 dan Mudzakkirah Ushul Fiqh hal.3 14]Adapun taqlid menurut istilah adalah mengikuti perkataan yang tidak ada hujjahnya sebagaimana dikatakan oleh Al-Imam Abu Abdillah bin Khuwaiz Mindad [Jami’ Bayanil Ilmi waAhlihi 2/993 dan l’lamul Muwaqqi’in 2/178]
Ada juga yang mengatakan bahwa taqlid adalah mengikuti perkataan orang lain tanpa mengetahui dalilnya. [Mudzakkirah Ushul Fiqh hal. 3 14]
Read More…

Posted by: adhi003 | September 15, 2007

manfaat kurma

alhamdulillah, di tengah maraknya penyakit-penyakit ganas dan mematikan Allah masih menurunkan karunia berupa obat, salah satunya adalah kurma. berikut kasiat-kasiat dari kurma :

[1]. Tamr (kurma kering) berfungsi untuk menguatkan sel-sel usus dan dapat membantu melancarkan saluran kencing karena mengandung serabut-serabut yang bertugas mengontrol laju gerak usus dan menguatkan rahim terutama ketika melahirkan.

Penelitian yang terbaru menyatakan bahwa buah ruthab (kurma basah) mempunyai pengaruh mengontrol laju gerak rahim dan menambah masa systolenya (kontraksi jantung ketika darah dipompa ke pembuluh nadi). Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Maryam binti Imran untuk memakan buah kurma ketika akan melahirkan, dikarenakan buah kurma mengenyangkan juga membuat gerakan kontraksi rahim bertambah teratur, sehingga Maryam dengan mudah melahirkan anaknya. Read More…

Posted by: adhi003 | June 21, 2007

Peran Muslimah

 Sesungguhnya wanita muslimah mempunyai kedudukan yang sangat tinggi di dalam Islam dan pengaruh yang begitu besar di dalam kehidupan setiap Muslim. Dialah sekolah pertama di dalam membangun masyarakat yang shalih jika ia berjalan sesuai dengan petunjuk Al-Qurâan dan Sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Karena berpegang teguh kepada kedua sumber itu dapat menjauhkan setiap Muslim laki-laki dan wanita dari kesesatan di dalam segala sesuatu. Read More…

Pertanyaan.

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Sebagian manusia tidak setuju keputusan sebagian orang yang meninggalkan pekerjaan yang di dalamnya terdapat perbuatan maksiat dan yang diharamkan, dan menuduh mereka tergesa-gesa, membinasakan diri sendiri, dan tidak mendapatkan pekerjaan, apakah rizki memang ditangan mereka ?

Jawaban

Semua rizki berada di tangan Allah Subhanahu wa Ta�ala. Bisa saja tindakannya meninggalkan maksiat menjadi penyebab datangnya rizki, karena firman Allah Subhanahu wa Ta�ala.

Artinya : Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya� [Ath-Thalaq : 2-3]

Rizki dari Allah Subhanahu wa Ta�ala tidak akan bisa didapatkan karena kemaksiatan kecuali atas dasar istidraj (memperdaya/memberikan tempo). Apabila anda melihat seseorang yang diberikan Allah rizki yang melimpah kepadanya, sedangkan dia tetap melakukan maksiat, maka ini adalah istidraj dari Allah kepadanya, karena Allah Subhanahu wa Ta�ala berfirman dalam KitabNya.

Artinya : Dan begitulah adzab Rabbmu, apabila Dia mengadzab penduduk negeri-negeri yang berbuat zhalim. Sesungguhnya adzabNya itu adalah sangat pedih lagi keras� [Hud : 102]

Nabi Shallallahu �alaihi wa sallam menjelaskan bahwa Allah Subhanahu wa Ta�ala memberikan tempo kepada orang yang zhalim, hingga apabila Allah Subhanahu wa Ta�ala menurunkan adzabNya, Dia tidak akan melepaskannya. Lalu beliau membaca ayat ini.

Artinya : Dan begitulah adzab Rabbmu, apabila Dia mengadzab penduduk negeri-negeri yang berbuat zhalim. Sesungguhnya adzabNya itu adalah sangat pedih lagi keras� [Hud : 102]

Adapun ucapan orang yang mengatakan bahwa ini adalah tindakan tergesa-gesa dan membinasakan diri sendiri, sebenarnya hal ini tidak bisa kita katakan tergesa-gesa atau tidak tergesa-gesa hingga kita melihat kondisi orang yang lari dari pekerjaan, apakah dia bisa tetap bekerja disertai sifat sabar atau tidak bisa sabar, sehingga terpaksa keluar dari pekerjaannya. Apabila ia bisa sabar dan mengharapkan pahala terhadap gangguan yang didapatnya, apalagi dalam perkara-perkara penting seperti seorang tentara misalnya, maka dia wajib untuk tetap bersabar. Dan jika itu tidak mungkin lalu dipaksa keluar, maka dosa atas orang yang mengeluarkannya.

[Fatawa Mu�ashirah, hal. 61 Syaikh Ibn Baz]

[Disalin dari bukuAl-Fatawa Asy-Syar�iyyah Fi Al-Masa�il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penyusun Khalid Al-Juraisy, Penerbit Darul Haq]

dikutip dari :

http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1898&bagian=0

Posted by: adhi003 | June 16, 2007

koreksi wahhabi

Koreksi Gelar “Wahhabi”

Wahhabi bukanlah sebuah gelar yang dicetuskan oleh pengikut Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, namun dari musuh-musuh dakwah, baik karena politik saat itu seperti Turki atau para pecinta kesyirikan dari kalangan kaum Sufi dan Rafidhah dengan tujuan melarikan manusia dari dakwah yang beliau embank dan menggambarkan bahwa beliau membawakan ajaran baru atau madzhab kelima yang menyelisihi empat madzhab.

Al Ustadz az Zirikli mengatakan dalam biografi syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab : “Musuh-musuh mereka menggelari dengan Wahhabiyyun nisbat kepada beliau. Gelar ini sangat popular di kalangan orang Eropa, sehingga masuk dalam kamus modern mereka. Sebagian mereka salah ketika menganggapnya sebagai madzhab baru dalam Islam karena meniru kedustaan para musuhnya, lebih-lebih para da’i yang didukung oleh Turki Utsmani”

Kalau mau dicermati, gelar ini sebenarnya salah kaprah ditinjau dari berbagai segi :

  1. Bahasa

Apabila ditinjau secara kaidah bahasa Arab, gelar Wahhabi nisbat kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah keliru. Nisbat yang benar –kalau mau jujur- adalah “Muhammadiyyah”, karena nisbat kepada namanya Muhammad, bukan ayahnya yang tidak ada sangkut pautnya yaitu Abdul Wahhab.

Sangat aneh, gelar ini diingkari oleh orang-orang Nejed, hal ini menunjukkan kepada kita bahwa gelar ini hanyalah impor dari luar Nejed yang disebarkan oleh musuh-musuh dakwah, terutama Turki waktu itu.

Meskipun begitu, ternyata Allah menghendaki nama Wahhabi sebagai nisbat kepada al-Wahhab (Maha Pemberi), yang merupakan salah satu nama Allah Subhanahu Wata’ala

  1. Sejarah

Mengekor dari kesalahan di atas, maka gelar ini memiliki dampak negatif lainnya yang tidak kalah parahnya, yaitu penyelewengan terhadap sejarah, sebab banyak para sejarawan yang akhirnya menisbatkan dakwah ini kepada ayah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, bukan kepada dirinya. Contohnya : Farid Wajdi dalam Dairah Ma’arifnya juz kesepuluh, dia mengatakan : “Wahhabiyah adalah sekelompok kaum muslimin yang mengikut seorang bernama Abdul Wahhab di Arab”.

Bahkan dalam Kitab al-Alam yang ditulis oleh para doctor Amerika dari berbagai bidang : sejarah, filsafat, dan sastra, mereka mengatakan : “Mereka adalah sekelompok kaum muslimin di Jazirah Arab yang mengikuti ajaran Abdul Wahhab, pembaharu yang muncul pada tahun 1945 M. masih banyak lagi lainnya yang terjerumus dalam kesalahan ini. Hal ini tidak lain karena gelar dan penisbatan yang tidak sesuai kenyataan”.

dikutip dari buku

Meluruskan Sejarah Wahhabi

Posted by: adhi003 | June 5, 2007

siapakah syiah itu ?

Syi’ah menurut etimologi bahasa Arab bermakna: Pembela dan pengikut seseorang. Selain itu juga bermakna: Setiap kaum yang bersatu/berkumpul di atas suatu perkara. (Tahdzibul Lughah 3/61) Read More…

Posted by: adhi003 | June 4, 2007

siapakah Abdullah bin Saba’

Jati diri Abdullah bin Saba diperselisihkan. Ada sebagian ulama tarikh yang menisbatkannya ke suku Himyar. Sementara Al-Qummi memasukkannya ke dalam suku Hamadan. Adapun Abdul Qahir al-Baghdadi menyebutnya berasal dari kabilah Al-Hirah. Sedangkan Ibnu Katsir berpendapat, Ibnu Saba berasal dari Rumawi. Tetapi Ath-Thabari dan Ibnu Asakir menyebutnya berasal dari negeri Yaman. Read More…

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.